Loading...

Jumat, 02 Desember 2011

Kecerdasan Spiritual

PERANAN  ORANG  TUA  DALAM  MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL ANAK DALAM KELUARGA DI PEKON BABAKAN
KEC. PUGUNG KAB. TANGGAMUS

A.    Latar Belakang Masalah
Firman Allah :



Artinya: Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasulnya(Muhammad)dan janganlah kamu mengkhinati amant-amanat yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allahlah pahala yang besar.(Q.S. Al-Anfal :27-28)[1]

Menurut Tafsir Al-Maraghy khianat yang dimaksud diatas adalah melakukan kekeliruan dan kegagalan, dengan kurangnya apa yang diharapkan dan dicita-citakan sipengkhianat. Sedangkan amanat adalah yang mana tiap-tiap hak materi maupun ma’nawi yang wajib kamu tunaikan kepada yang berhak menerimanya.[2]
Ayat di atas jelas bahwa anak merupakan  amanat  Allah  SWT  yang  harus dipelihara  dan  dibina, hatinya  yang  suci  adalah  permata  yang  sangat  mahal  harganya.  Jika dibiasakan  pada  kejahatan  dan  dibiarkan  seperti  dibiarkannya  binatang,  ia akan  celaka  dan  binasa[3]. Anak merupakan bagian dari keluarga yang berhak mendapatkan pendidikan, Sedangkan  memeliharanya dengan  upaya pendidikan dan mengajarinya akhlak yang baik untuk menyelamatkannya di dunia dan akhirat adalah tugas semua anggota keluarga.
Dalam Al-Qur’an-al-Karim Surat at-Tahrim ayat : 6.


Artinya : Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Q.S. AT-Tahrim :6)[4]
Dalam surat di atas jelas perintah terhadap orang tua untuk memelihara anak dan keluarga dari siksa api neraka yang apabila tugas itu tidak dikerjakan maka binasalah anak itu dan juga sebaliknya apabila dilaksanakan maka anak itu akan selamat dari siksanya api neraka. Dalam hal ini orang tualah yang memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa Islami sebagaimana
Sabda Rasulullah:

 
 حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ الله عَنْهُ : اَنَّ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا ِمْن جَدْعَاءِ

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a.dia berkata”Rasulullah SAW telah bersabda”Seorang anak   dilahirkan  dalam keadaan fitrah(suci bersih)kemudian orang tuanyalah yang akan membuatnya Yahudi, Nasrani, Majusi, sebagaiman hewan melahirkan anaknya (dengan sempurnakejasian anggotanya)apakah menganggap hidung, telinga dan anggota lainnya terpotong. (H.R. Bukhari dan Muslim)[5]


Dari hadis ini dapat dipahami, begitu pentingnya peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak dimasa yang akan datang. Dalam Al-Qur’an al-Karim surat Luqman ayat 16.




Artinya: (Luqman  berkata)  ”Hai  anakku,  sesungguhnya  jika  ada  (sesuatu perbuatan)  seberat  biji  sawi,  dan  berada  dalam  batu  atau di  langit atau  di  dalam  bumi,  niscaya  Allah  akan  mendatangkannya (membalasinya)  sesungguhnya  Allah  Maha  Halus  lagi  Maha Mengetahui. (Luqman : 16)[6]

Ayat diatas mengisyaratkan Orang  tua agar memperhatikan  anak  dari  segi  Muraqabah  Allah SWT  yakni  dengan  menjadikan  anak  merasa  bahwa  Allah  selamanya mendengar  bisikan  dan  pembicaraannya,  melihat  setiap  gerak-geriknya  serta mengetahui  apa  yang  dirahasiakan  dan  disembunyikan.  Terutama  masalah kecerdasan  spiritual  anak  (SQ).  SQ  merupakan  landasan  yang  diperlukan untuk  memfungsikan  IQ  dan  EQ  secara  efektif.  Bahkan  SQ  merupakan kecerdasan tertinggi manusia.
Pada  saat  ini  kita  telah  mengenal  adanya  tiga  kecerdasan.  Ketiga kecerdasan  itu  adalah  kecerdasan  otak  (IQ),  kecerdasan  hati  (EQ),  dan kecerdasan  spiritual  (SQ).  Kecerdasan-kecerdasan  tersebut  memiliki  fungsi masing-masing yang kita butuhkan dalam hidup di dunia ini.
Dalam  rangka  mencapai  pendidikan,  Islam  mengupayakan  pembinaan seluruh  potensi  manusia  secara  serasi  dan  seimbang  dengan  terbinanya seluruh  potensi  manusia  secara  sempurna  diharapkan  ia  dapat melaksanakan fungsi pengabdiannya  sebagai  khalifah  di  muka  bumi.  Untuk  dapat melaksanakan pengabdian tersebut harus dibina seluruh potensi yang dimiliki yaitu potensi spiritual, kecerdasan, perasaan dan kepekaan. Potensi-potensi itu sesungguhnya merupakan kekayaan dalam diri manusia yang amat berharga.[7]
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang digunakan manusia untuk “berhubungan” dengan Allah”.
Sedangkan didalam kamus Psikologi spirtual yaitu yang berkaitan dengan  roh,  semangat  atau  jiwa  religius. Spiritual yang  berhubungan  dengan  agama,  keimanan,  kesholehan, menyangkut  nilai-nilai  transcendental  yang  bersifat  mental sebagai  lawan  dari  material,  fisikal/jasmaniah.  Jadi kecerdasan  spiritual  adalah  kemampuan  untuk  mengaktualisasikan  nilai-nilai  ibadah  terhadap  setiap  perilaku  dan kegiatan  melalui  langkah-langkah  dan  pemikiran  yang bersifat  fitrah  menuju  manusia  seutuhnya  dan  memiliki  pola pemikiran tauhid serta berprinsip hanya karena Allah.[8]
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang digunakan manusia untuk “berhubungan” dengan Allah”.
Sedangkan menurut Ari Ginanjar Agustian,”kecerdasan  spiritual  (SQ)  adalah  kemampuan  untuk  memberi  makna ibadah  terhadap  setiap  perilaku  dan  kegiatan,  melalui  langkah-langkah  dan pemikiran  yang  bersifat  fitrah  menuju  manusia  yang  seutuhnya  (hanif)  dan memiliki pola pemikiran tauhid (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”.[9]
Dari defenisi tersebut kita dapat mengetahui bahwa kecerdasan spiritual neghasilkan orang orang–orang yang spiritual(spiritual Beings)yang tidak saja tangguh dan cakap dalam ujian hidup, melainkan ia juga mampu memdungsikan hubungannya dengan Tuhan untuk meaih sukses dan kebahagian batin-spiritual yang bukan lagi terletak disisi luar (outside), melainkan justru disisi dalam (inside) yang dapat kita istilahkan dengan iman yang teguh sebagai wujud keyakinan dan kepercayaan yang kuat.
Oleh karna itu, dengan menempuh perjalanan menuju Allah SWT, merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia agar bisa mengetahui subtansi dan hakikat manusia dan hal-hal yang berkaitan dengannya.[10]
Adapun  ketiadaan  kecerdasan  ruh  akan  mengakibatkan  hilangnya ketenangan  bathin  dan  pada  akhirnya  akan  mengakibatkan  hilangnya kebahagiaan  pada  diri  orang  tersebut.  Besarnya  kecerdasan  ruh  lebih  besar dari pada kecerdasan hati dan kecerdasan otak atau kecerdasan ruh cendrung meliputi kecerdasan hati dan kecerdasan otak.
Kecerdasan  spiritual  adalah  kecerdasan  jiwa.  Ia  dapat membantu manusia  menyembuhkan  dan  membangun  dirinya  secara  utuh.  Kecerdasan spiritual  ini  berada  di  bagian  diri  yang  paling  dalam  yang  berhubungan langsung  dengan  kearifan  dan  kesadaran  yang  dengannya  manusia  tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada tetapi manusia secara kreatif menemukan nilai-nilai yang baru. Setiap  manusia  pada  prinsipnya  membutuhkan  kekuatan  spiritual  ini, karena  kebutuhan  spiritual  merupakan  kebutuhan  untuk  mempertahankan/mengembangkan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama serta kebutuhan untuk  mendapatkan  pengampunan  mencintai,  menjalin  hubungan  dan  penuh rasa percaya dengan sang penciptanya.
Kecerdasan  spiritual  ini  sangat  penting  dalam  kehidupan  manusia, karena ia akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan yang  baik  dengan  yang  buruk,  memberi  manusia  rasa  moral  dan  memberi manusia kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan aturan-aturan yang baru.
Peranan  orang  tua  sangat  berpengaruh  sekali  dalam  mendidik  anak-anaknya terutama sekali di dalam pendidikan agama Islam. Anak merupakan bahagian  dari  masyarakat  yang  dipundaknya  terpikul  beban  pembangunan dimasa mendatang, dan juga sebagai generasi penerus dari yang tua-tua, maka dari  itu  orang  tua  harus  lebih  memperhatikan  dan  selalu  membimbing  dan mendidik  dengan  baik,  sehingga  tercapailah  baginya  kebahagiaan  dunia  dan kebahagiaan akhirat. Untuk  mengantisipasi  hal-hal yang tidak diinginkan,  maka  Allah  mengingatkan  kepada  orang tua agar mempertahankan keturunannya agar keturunananya dapat menjadi orang yang berguna dan hidup sebagaiman fitrahnya.
Firman Allah :


Artinya:   Dan  hendaklah  takut  kepada  Allah  orang-orang  yang  seandainya meninggalkan  dibelakang  mereka  anak-anak  yang  lemah  yang mereka  khawatir  terhadap  (kesejahteraan)  mereka  oleh  sebab  itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah. (Qs. An-Nisa : 9)[11]

Ayat di atas mengisyaratkan kepada orang tua agar tidak meninggalkan anak  mereka  dalam  keadaan  lemah.  Lemah  disini  maksudnya  adalah  lemah dalam  segala  aspek  kehidupan  seperti  lemah  mental,  psikis,  pendidikan, ekonomi  terutama  lemah  iman  (spiritual).  Anak  yang  lemah  iman  akan menjadi  generasi  tanpa  kepribadian.  Jadi  semua  orang  tua  harus memperhatikan  semua  aspek  perkembangan  anaknya  baik  itu  dari  segi perhatian,  kasih  sayang,  pendidikan  mental,  maupun  masalah  aqidah  atau keimanannya.
Berkaitan dengan persoalan diatas setelah penulis mengadakan pra survai di Pekon Babakan yang menjadi tempat penulis mengadakan penelitian dengan populasi penelitian penduduk ± 1056 orang dengan 208 kk.[12]
Bahwasannya masih banyak orang tua di Pekon Babakan belum secara maksimal  melakukan pembinaan dan pengembangan potensi-potesi spiritual yang ada dalam diri  anak hal ini karna keterbatasan pengetahuan mereka terhadap ilmu agama, dan dalam menjalankan amanah Allah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh penulis diatas. Salah satu bukti yaitu kurangnya dorongan orangtua dan rendah kemauan anak untuk belajar ilmu agama, melaksanakan sholat berjama’ah di hari jum’at dan pada saat sholat lima waktu dan hal ini terjadi karna kurangnya keteladanan dari orangtua itu sendiri tehadap anak-anaknya.[13]
Dan masih menurut pendapat, Hi. Jusri hendaknya orang tua menjadi suri tauladan bagi anak-anak nya, dan berlaku lemah-lembutlah  kepada  anak-anaknya,  karena  dengan  berperilaku  lemah-lembut  sangat membantu dalam menanamkan kecerdasan spiritual pada anak sebab anak itu besarnya  nanti  ditentukan  bagaimana  cara-cara  orang  tua  mendidiknya  dan membesarkannya dan apabila hal ini dilakukan dengan sunguh-sungguh maka anak-anak itu akan menjadi anak  sebagaimana fitrahnya dan menjadi anak yang kuat dalam segala hal.
Untuk memperkuat pribadi, meneguhkan hubungan, memperdalam rasa syukur  kepada  Allah  atas  nikmat  dan  perlindungan  yang  selalu  kita  terima, maka  dirikanlah  shalat,  karena  dengan  shalat  kita  melatih  lidah,  hati,  dan seluruh  anggota  badan  untuk  selalu  ingat  kepada  Allah. Beranjak dari apa yang penulis paparkan di atas dapat dipahami bahwa upaya  membina  kecerdasan  spiritual  anak  perlu  mendapat  perhatian  yang serius dari para orang tua, yang berdasarkan kepada Al Qur’an dan Hadis. Berdasarkan  hal  tersebut  mendorong  penulis  untuk  membahasnya dengan  judul :
“ PERANAN  ORANG  TUA  DALAM  MEMBINA KECERDASAN SPIRITUAL ANAK DALAM KELUARGA DI PEKON BABAKAN KEC. PUGUNG KAB. TANGGAMUS”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan di atas, maka yang menjadi masalah pokok dalam skripsi ini adalah : “Sejauhmana peranan orang tua di Pekon Babakan Kec. Pugung Kab.Tanggamus dalam membina kecerdasan spiritual anak dalam keluarga”.

C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan  umum  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  kecerdasan spiritual  anak  serta  cara  pengembangan  dalam  keluarga  menurut  pendidikan Islam. Dari tujuan umum ini diperinci kepada beberapa tujuan khusus sebagai berikut:
  1. Mengetahui  bagaimana peran orangtua dalam membina  kecerdasan  spiritual  anak  dalam keluarga di Pekon Babakan Kec. Pagelaran Kab. Tanggamus ?
  2. Mengetahui  faktor  apa  saja  yang  mempengaruhi  dalam pembinaan  kecerdasan spiritual anak di Pekon Babakan Kec. Pugung Kab. Tanggamus?
Sedangkan kegunaan penelitian adalah:
  1. Sebagai  pedoman  bagi  orang  tua  dalam  membina  kecerdasan  spiritual kepada anak dalam keluarga sehingga para orang tua tahu hakikat spiritual, faktor  yang  menghambat pembinaan kecerdasan  spiritual,  dan  cara  menanamkan kecerdasan spiritual kepada anak.
  2. Untuk  menambah  wawasan  penulis  yang  menekuni  bidang Pendidikan Islam tentang psikologi.

D.    Metode Penelitian
            Penelitian ini bersifat Deskriptif, sebab hanya menggambarkan kondisi yang ada dilapangan.
  1. Populasi dan Sample
a.       Populasi
Populasi adalah Jumlah keseluruhan dari pada unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.[14]
Dalam penelitian ini populasinya adalah masyarakat yang di Pekon Babakan dan dikhususkan kepada orang tua (KK) yang mana jumlahnya 208 kk.[15]
b.      Sample
Sample adalah Sebagian dari populasi yang akan diteliti.[16]dan untuk menentukan banyaknya sample yang akan diambil” Objek yang kurang dari 100 lebih baik diambil semua, jika objeknya besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih sesuaai denga jumlah populasi yang diteliti.Berdasarkan keterangan tersebut maka penulis mengambil sample sebesar 20% dari seluruh populasi yang ada di Pekon Babakan yang berjumlah 208kk, yaitu 10/ 100 x 208=41,6 kk
Tabel I
Populasi dan Sample
Pekon Babakan Kec. Pugung Kab. Tanggamus
No
Dusun
KK
Sample 20%
1
1(Jatisari)
70
14 kk
2
2(dua)
96
19,2 kk
3
3(tiga)
42
8,4 kk

Jumlah
208 kk
41,6 kk
Sumber : Dokumen Pekon Babakan Kec. Pugung Kab. Tanggamus
Dengan memperhatikan tabel diatas bahwa sample di ambil hanya 41,6 sample penulis bulatkan menjadi 42 orang sebab angka yang ddibelakang koma apabila diatas lima bias dibulatkan menjadi satu.
  1. Metode Pengumpulan Data
a.       Metode Observasi
Observasi adalah pemilihan, pengubahan, pencatatan dan pengkodean serangkaian prilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris.
Teknik Observasi untuk memperoleh data yang actual/segar dalam arti bahwa data diperoleh dari responden pada saat terjadinya tingkah laku.[17]
b.      Metode Interview
Interview adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam.
Teknik Wawancara dapat dibedakan atas dua  yaitu
a. Wawancara berstruktur yang murupakan teknik wawancara dimana pewawancara menggunakan daftar pertanyaan, atau daftar isian sebagai pedoman untuk mendapatkan informasi ketika wawancara.
b. Wawancara tidak berstruktur adalah merupakan teknik wawancara dimana pewawancara tidak menggunakan daftar pertanyaan atau daftar isian sebagai penuntun selama dalam proses wawancara untuk   mendapatkan data.[18]   
c.       Metode Dokumentasi
Studi Dokumentasi adalah tekni pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subyek penelitian, namun melalui dokumen.
Dokumen yang digunakan untuk mendapatkan data diantaranya berupa buku harian, surat pribadi, laporan notulen rapat, catatan kasus da;lam pekerjaan social dan dokumen lainnya.[19]  
d.      Metode Kuesioner (Angket)
Kuesioner adalah Teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan dafatar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respon) atas atau, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajuakan
Berdasarkan bentuk pertanyaan angket dapat dibedakan menjadi tiga yaitu
a)      Angket terbuka yaitu merupaka angket yang pertanyaannyamemeberika kebebasan kepada responden, untuk memerikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka 
b)      Angket tertutup yaitu angket yang pertanyaannya maupun pernyataannya tidak memberikan kebebasan kepada responden, unutk memberikan jawaban dan pendapatnya sesuai dengan keinginan mereka
c)      Angket semi terbuka yaitu merupakan angket yang pertanyaannya atau pernyataannya memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban dan pendapat menurut pilihan-pilihan jawaban yang telah disediakan.[20]
  1. Metode Analisa Data
Analisa data menurut Patton(1980:268) yang dikutip dalam buku moleong yang berjudul Metode Penelitian kualitatif adalah Proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar.[21] Adapun pekerjaan analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokan, memberikan kode, dan mengategorikan nya.
Sehubungan dengan uraian tentang analis diatas, uraian dalam bab ini selanjutnya akan dipersoalkan pokok-pokok sebagai berikut :
A.    Pemrosesan satuan
Uraian tentang pemrosassan satuan ini terdiri atas :
1. Tipologi satuan
Satuan adalah satuan suatu latar sosial. Pada dasarnya satuan itu merupakan alat untuk mengahluskan pencatatan data.[22]
2. Penyusunan satuan 
Satuan itu adalah bagian terkecil yang mengandung makna yang bulat dan dapat berdiri sendiri terlepas dari bagian yang lain.
Langkah pertama dalam pemrosesan satuan ialah analisis  hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh data yang sudah terkumpul. setelah itu diusahakan agar satuan-satuan itu diidentifikasi.[23]
B.     Kategori
1. Fungsi dan Prinsif Kategorisasi 
Kategorisasi berarti penyususnan kategori. Kategori tidaklain adalah salah satu tumpukan dari seperangkat tumpukan yang disusun atas dasar pikiran, intuisi, pendapat, atau kreteria tertentu.
2. Langkah-langkah kategorisasi
Metode yang digunakan kategorisasi didasarkan atas metode analisis komparatif, adapun langkah-langkah dalam kategorisasi yaitu :
a.       Mengelompokan kartu-kartu yang telah dibuat kedalam bagian-bagian isi yang secara jelas dan berkaitan.
b.      Merumuskan aturan yang menguraikan kawasan kategori dan yang akhirnya dapat digunakan untuk menetapkan inklusi setiap katu pada kategori dan juga sebagai dasar untuk pemeriksaan keabsahan data.
c.       Menjaga agar setiap kategori yang telah disusun satu dengan yang lainnya mengikuti prinsif taat asas.[24]



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, Pustaka Amani, Jakarta, 2007, cet-1.
Ahmad Mustafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Juz-8, CV. Toha Putra, Semarang, 1987, Cet-1.
Akhmat Muhaimin azzet, Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Bagi Anak,
 Kata Hati, Yogyakarta, 2010.
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997.
Aliah B. Purwakaniah Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008.
Ary  Ginanjar  Agustian,  Rahasia  Sukses  Membangun  Kecerdasan  Emosi  dan  Spiritual ESQ, Arga, Jakarta, 2001, cet ke-1.
Asy-Syaikh Fuhaim Musthafa, Manhaj Pendidikan Anak Muslim, Terjemahan Abdillah Obid dkk, Daarut-Tawzi’wan-Nasyril Islamiyyah, Kairo, 2003.
Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali, Jakarta, 2002.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Pena Pudi Aksara, Jakarta, 2006.    
Lexy J Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000
Mas Udik Abdullah, Meledakkan IESQ dengan Langkah Taqwa dan Tawakal,   Zikrul Hakim, Jakarta, 2005.


M.Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodelogi Penelitian dan Aplikasinya, Penerbit Galia Indonesia, Jakarta, 2002.
Pir  Vilayat  Inayat  Khan, Membangkitkan  Kesadaran  Spritualitas,  terjemahan  Rahmain Astuti, Putaka Hidayah, Bandung, 2002.
Sa’id Hawwa, Pendidikan Spiritual, Diterjemahkan oleh Abdul Munip, M.Ag. Mitra Pustaka, Yogyakarta, Cet-1 th 2006.
Samsul Munir Amin, Menyiapkan masa depan anak secara islami  Penerbit : Hamzah, Jakarta 2007

 
Shahih Bukhari dan Muslim, Penerbit: Jabal Bandung 2008 cet-1
Suharsono, Mencerdaskan Anak, Penerbit : Inisiasi Press,  Jakarta 2002

Sukidi, Kecerdasan Spritual, Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.

Sayyed  Hossein  Nasr,  Antara  Tuhan,  Manusia  dalam  Alam;  Jembatan  Filosofis  dan Religius Menuju Puncak Spritual, terjemahan oleh Ali Noer Zaman, IRCisoD, Yogyakarta, 2003.
Toto  Tasmara,  Kecerdasan  Rohaniyah  Transcendental  Intelegensi,
Gema Insani Pers, Depok, 2001.
www. muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm (tidak diterbitkan)





 
OUT LINE
HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
PERSETUJUAN PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
MOTTO
PERSEMBAHAN
RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I   PENDAHULUAN
A.    Penegasan Judul
B.     Alasan Memilih Judul
C.     Latar Belakang Masalah
D.    Rumusan Masalah
E.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
F.      Metode Penelitian
G.     
BAB II  LANDASAN TEORI 
A.    Peran Orang Tua
1.      Pengertian Orang Tua
2.      Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak
B.     Kecerdasan Spiritual
1.      Pengertian Kecerdasan Spiritual
2.      Ciri-ciri Kecerdasan Spiritual
3.     

 
Fungsi Kecerdasan Spiritual
C.  Peranan Orang Tua dalam Membina Kecerdasan Spiritual Anak dalam Keluarga

 

 
BAB III PENYAJIAN DATA LAPANGAN
A.    Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.      Sejarah Singkat Pekon Babakan
2.      Luas wilayah dan Letak Geografis Pekon Babakan Kec. Pugung Kab. Tanggamus
3.      Keadaan Penduduk Pekon Babakan Kac. Pugung Kab. Tanggamus